gerbong pertama
June 25th, 2009 by popcornDpk, 5 Feb 2007
Tanpa sebuah alasan yang jelas, aku selalu memilih gerbong pertama ketika KRL menjadi pilihan transportasi utama-ku. Setiap kali orang bertanya, jawabannya selalu pasti, biar sampe-nya duluan.
Pagi itu kereta express yang menuju Jakarta tiba tepat waktu, sesuatu yang tak wajar memang, tapi bagiku, itu salah satu hal paling luar biasa sepanjang bertahun-tahunnya aku menjadi pelanggan setia KRL. Gerbong pertama menjadi tujuanku. Ramai, tapi gerbong ini masih menyisakan sebuah tempat kosong diujung gerbong. Pantatku merasakan nikmatnya duduk … semilir dingin penyejuk ruangan berhembus mesra menyeka bulir-bulir keringatku .. damai..
Ada sesuatu menarik diujung sana. Ayu. Wajahnya sendu. Rambutnya indah tergurai. Putih. Bersih. Cantik. Seksi elegant dengan sepatu hak tinggi menyanggah betis putih nan sempurna. Dialah pemandangan terinah di gerbong ini. Sungguh !
Dpk, 6 Feb 2007
Aku tergesa berlari mengejar kereta dari sisi stasiun.
Pfiuh ..
Akhirnya aku berhasil masuk ke gerbong pertama, sambil mengatur sisa-sisa oksigen yang masih tersisa di tubuhku. Menghirup dalam-dalam udara sejuk dari pendingin udara. “Untung saja. Kalau aku terlambat beberapa menit.. bisa kacau“, gumamku.
Otak kepalaku yang masih penuh dengan sejuta kalimat penghibur diri - tiba-tiba berhenti. Ia duduk dihadapanku. Hari ini .. ia jauh lebih cantik . Rambutnya di-ikat ekor kuda. Tapi justru itu yang membuat dirinya makin mempesona.
Dpk, 7 Feb 2007
Hari ini sengaja aku tiba di stasiun lebih awal, hanya untuk bisa menikmati gadis pujaanku, lebih lama.
Kupandang dirinya yang tengah berdiri menunggu kereta, sungguh selalu ia menjadi mahkluk terindah dipagi ini. Jarak lima meter bagiku sudah cukup untuk bisa menangkap segala aura-nya yang kian hari kian menjelma rasa .. cinta.
Aku sunggu jatuh cinta. Pada dirinya. Pada wajahnya. Pada rambutnya. Pada senyumnya. Pada lesung pipitnya. Pada hembusan nafasnya. Pada binar matanya. Pada lengkung alisnya. Pada semuanya …
Aku harus mendapatkan namanya besok.
Dpk, 8 Feb 2007
Jam weker sialan, aku harus telat lima belas menit berangkat dari rumahku. Ojek langgananku berpacu dalam kecepatan hampir tiga kali lebih cepat dari biasanya menuju stasiun.
Setelah tiket kusimpan rapi di saku, aku berlari segera mengejar kereta yang kini tengah berhenti … namun belum sampai aku di depan gerbong, kereta mulai menutup pintu otomatisnya. Bergerak perlahan .. menjauh. Aku hanya terdiam sambil mengatur sisa nafasku. Ada dirinya dalam gerbong itu. Aku bisa melihat jelas wajahnya dari balik kaca jendela. Ia menatapku kali ini. Namun laju kereta harus memisahkan kami ..
Tiga puluh menit kuterduduk menunggu kereta express selanjutnya. Sampai sebuah berita dari pengeras suara di stasiun memberitakan bahwa semua jadwal kereta akan mengalami keterlambatan, karena ada sebuah kecelakaan dimana kereta express sarat penumpang yang mengarah ke Jakarta mengalami tabrakan hebat dengan kereta express lainnya yang mengarah ke Bogor .
Sejak hari itu, aku tak pernah lagi berjumpa dirinya ….
Budhine - Kamis 25 Jun 2009