• 25

    Jun

    gerbong pertama

    Dpk, 5 Feb 2007 Tanpa sebuah alasan yang jelas, aku selalu memilih gerbong pertama ketika KRL menjadi pilihan transportasi utama-ku. Setiap kali orang bertanya, jawabannya selalu pasti, biar sampe-nya duluan. Pagi itu kereta express yang menuju Jakarta tiba tepat waktu, sesuatu yang tak wajar memang, tapi bagiku, itu salah satu hal paling luar biasa sepanjang bertahun-tahunnya aku menjadi pelanggan setia KRL. Gerbong pertama menjadi tujuanku. Ramai, tapi gerbong ini masih menyisakan sebuah tempat kosong diujung gerbong. Pantatku merasakan nikmatnya duduk … semilir dingin penyejuk ruangan berhembus mesra menyeka bulir-bulir keringatku .. damai.. Ada sesuatu menarik diujung sana. Ayu. Wajahnya sendu. Rambutnya indah tergurai. Putih. Bersih. Cantik. Seksi elegant dengan sepatu hak ti
  • 24

    Feb

    tenda (yang tak lagi) biru

    Pagi itu ada yang istimewa diujung gang yang hampir setiap hari kulalui. Kursi-kursi rapih berjajar, meja berhias dengan wanita-wanita cantik berdandan ala sunda tersenyum menyapa para tamu, alunan musik degung mengisi disela ramainya suasana, dan tak lupa .. janur kuning melengkung berhias diujung tenda yang tak lagi biru. Ragu kumelangkah berlalu, mencoba menerka dalam benak, hati bertanya pernikahan siapa ? (Desy Ratnasari banged seh..). Dadaku berdegup kencang, ketika kumelihat sebuah rumah yang dulu sederhana, kini berubah menjadi istana cantik bagi dua insan dibawah naungan dewi asmara. Aku mengenal betul rumah itu, teringat padaku ketika saat itu aku melepas senyumnya yang terbawa oleh wajah ayu tenggelam dibalik pintu. Iya dia Seorang wanita yang dulu pernah mencoba merebut h
  • 22

    Feb

    tentangmu

    Senja pertama dikantor seusai Adzan Maghrib. Menikmati suguhan nan sederhana. Segelas air putih dingin yang baru saja kuambil dari dispenser. Sepotong roti pisang keju, risol, dan lemper baru saja menggenapkan sejumlah penganan yang perlahan masuk ke perutku. Hembusan pendingin ruangan perlahan menghilang berganti hangat seiring malam kian menyapa. Lantunan lagu-lagu lembut terdengar dari laptopku, menemani sepi, membunuh sunyi. Rindu setahun lalu, pada malam-malam yang sama. Malam dimana kulihat senyummu. Cairkan kebuntuan pikiran. Rindu setahun lalu, pada saat-saat yang sama. Hari dimana kau peluk aku. Lantunkan melodi kehampaan. Rindu tiada terperi. Karena semua tentangmu dan selalu tentangmu. . Budhine - di Kantor Selepas Maghrib. Selasa 25 Sep 2007 (ditulis ulang di Khobar - 22 F
  • 21

    Feb

    andai dia tahu

    Hari ini dia memakai baju pink. Lebih cantik dari biasanya. Rambutnya juga dibiarkan terurai, tidak seperti biasanya. Hmmm… benar2 cantik. Tadi siang, dia lewat didepan meja kerjaku. Waaa, ga kebayang deh .. wangi semerbak parfum nya membuatku melayang … ooo sepertinya aku baru saja melihat bidadari. Sekarang aku sedang diruang meeting. Sungguh, ini adalah meeting yang luar biasa. Bukan karena kami membahas sesuatu yg sangat penting bagi perusahaan kami, tapi ia ada diruangan ini. Duduk tepat dihadapanku. Oh my god … Aku mengenalnya sejak seminggu lalu, namun sejak hari itu, aku merasa ia telah memiliki hati ini, dan sejuta bunga indahnya. Ia adalah ciptaanNya yang terindah, yang menghanyutkan hatiku .. semuanya telah terjadi dan aku tak mungkin berhenti .. memikirkan
  • 15

    Feb

    grey for my valentine

    “Terima kasih, Sudah mengajakku makan malam. Sungguh romantis. Tak kukira aku begitu terbawa suasana. Ternyata kau pandai memilih tempat makan. Berdua, sambil memandang langit Jakarta yang walaupun sedikit mendung, namun tetap indah, karena ada kau di depanku. Cokelat yang kau berikan tadi, masih ada disini. Kuletakan bersama boneka beruang teddy, dan setangkai mawar merah yang sengaja kau letakkan di atas meja kerjaku tadi pagi. Oh yah, kartu valentine nya juga ada kok, gak akan hilang. Maaf, tadi aku memang tidak banyak bicara. Bukannya aku tidak mau, tapi aku sungguh menikmati romansa yang kau ciptakan. Tak akan pernah kulupakan hari ini, khususnya malam ini. Hmmm… aku sedang memikirkan tentang ucapanmu di mobil tadi. Sungguh aku tak pernah menduga kau akan mengatakannya
  • 14

    Feb

    ada hati untuk hani

    Sepertinya menunggu jarum jam menunjuk angka dua belas tepat, sama saja seperti menunggu hasil ujian mata kuliah kalkulus keluar. Atau .. seperti menunggu antrian toilet di kostan kalo kita emang lagi kebelet banged. Hari ini jumat - tiga belas februari. Aku terduduk disudut kamar kost. Memandang jarum jam yang rasanya malas sekali bergerak dari angka sebelas. Denting piano Jim Brickman terdengar mesra dari laptopku yang sedari tadi kubiarkan menyala. I’ve dreamed of this a tousand times before In my dreams I couldn’t love you more I will give you my heart until the end of time You’re all I need, my love, my valentine Bulan ini, genap setahun aku berkenalan dengannya. Seperti bagai mimpi. Semuanya berawal dari sesuatu yang biasa, namun semakin hari, semakin menjadi l
  • 9

    Feb

    she

    Cuaca sedari pagi tadi cukup sejuk. Tiada sinar mentari yang biasa kulihat begitu cerah. Angin pun berhembus ringan meniup hamparan pasir disekitar villa kecil tempat kutinggal. Nyaman sekali. Namun tiada tempat senyaman dihatimu. Burung merpati yang biasa hinggap diatas jendela kamarku kini ada enam ekor. Biasanya kudapati hanya tiga atau paling banyak empat ekor. Lalu dari mana datangnya dua ekor merpati baru. Yang jelas kehadiran mereka meriangkan setiap pagiku. Damai sekali. Namun tidak sedamai dimana aku memelukmu. Laptopku masih menyala sedari malam. Sengaja memang kubiarkan begitu. Kuputar beberapa lagu cinta penuh romansa kehangatan. Agar kuterlelap dalam pejaman mata terbuai mimpi penuh warna dan bunga. Namun tiada warna seindah matamu dan tidak pernah kutemui kehangatan, kecual
  • 6

    Feb

    satu jam saja

    Kau masih menggenggam erat tanganku. Erat sekali. Dan sekali untuk selamanya .. kutatap matamu. Dalam sekali. Ingin kuselipkan gundah yang merasuki sukmaku pada binar matamu. Ingin rasanya kau mengerti. Di dada ini ada rasa yang makin remuk saat kau harus melangkah pergi .. Lukisan wajahmu berbicara lara. Terbias jelas dari setiap rona. Senyum manismu rekaan semata. Namun kutahu kau pun demikian hancur, saat harus melihatku terdiam berdiri … disini .. disaat kauh menjauh. Stasiun ini hingar oleh bingarnya keadaan. Orang lalu-lalang disekitar kami. Suara-suara ramai berseragam dengan riuhnya suasana. Namun kami masih terdiam, menggengam, dan menatap. Hanya ada satu kata yang kudengar jelas ditelingaku … “Tunggu aku .. mas ..” Ia pun meninggalkanku. Berlari menu
  • 5

    Feb

    you were the only one

    Kereta mulai bergerak menjauhi stasiun. Setiap gambar dimataku perlahan bergerak, dan semakin lama semakin cepat. Hanya ada bayangan diriku termangu bercermin kaca jendela. Semuanya menjauh .. meninggalkan kota ini. Sedikit terbersit rasa rindu pada kampung halamanku, tapi sepertinya bukan itu yang membuatku begitu ingin segera tiba disana. Wajah ibu dan ayahku, aku rindu mereka .. tapi bukan itu juga yang membuat hati ini selalu bergetar ketika ku harus kembali pulang. Abang. Panggilan kesayanganku untuknya. Mungkin dialah sumber getaran rasa ini. Setiap detik namanya terlintas dipikiran, ada gumpalan sayang tercurah untuknya. Wajahnya dan senyumnya, mengisi setiap langkah kaki ini bergerak kemana. Sebentar lagi aku melepas kasih. Mengikuti semua saran orang tuaku. Menjalankan ibadah y
  • 4

    Feb

    popcorn : rasa manis

    Jemariku mulai menghitung. Belasan tahun berlalu. Kukira kisah hanya sepenggal asa. Debu berhembus terhempas angin. Warna kelabu tertutup muram. Yang ada cuma butiran-butiran embun yang selalu hadir di pagi-pagi buta. Sebuah lembaran kembali terbuka. Getirnya masih hinggap, pada setiap tangkainya, pada ujung kelopaknya, dan pada setiap gurat baunya. Kata-kata lama terlintas begitu saja. Senyumnya … dan segala tentangnya. Ahh … jemariku masih tak sanggup menghitung .. berapa lama .. dan akan bertahan untuk sampai berapa lama. Andaikan. Mungkin bukan sebuah ungkapan tepat untuk mewakili segalanya. Tapi ia adalah aliran air dari jernihnya sebuah rasa. Tercipta dan terbentuk bukan oleh kenangan, tapi oleh waktu. Kembali terbuka. Rasa manis dari indahnya penantian. Yang kupikir
- Next

Author

Follow Me

Search

Recent Post